Makna Motif Pada Chinese Dress Oleh Butik Online

Sebagai sebuah negara multikultural serta multietnis, Indonesia memang memiliki beragam kultur budaya serta etnis yang disatukan di bawah Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi satu juga. Meski demikian, setiap etnis bebas menjalankan kebudayaan masing-masing selama tidak bertentangan dengan hukum negara atau berusaha memecah belah.

Tentu saja, kultur tidak dapat terlepas dari pakaian tradisional sebuah suku atau etnis, termasuk warga berdarah Tionghoa di Indonesia. Tersebutlah Cheongsam yang merupakan pakaian tradisional wanita China yang memberi efek elegan dan seksi yang mulai digandrungi khalayak umum hingga butik online pun turut memproduksinya bagi konsumen.

Dilansir berbagai situs, awalnya pakaian tradisional ini disebut Qipao pada masa pemerintahan Manchu. Zaman itu, Qipao atau Cheongsam jauh berbeda dengan model yang saat ini umum dikenakan. Pakaian tersebut juga hanya boleh dipakai oleh wanita bangsawan atau yang memiliki strata tinggi di masyarakat. Qipao tidak boleh menonjolkan lekuk tubuh, bentuknya lebar dan menjuntai hingga mata kaki. Hal itu dimaksudkan untuk melindungi identitas si wanita sebagai seorang dari kasta terhormat hingga tak sembarangan dapat dipandang. Ketika Dinasti Manchu runtuh, barulah Qipao merambah ke seluruh dataran China dan mengalami beragam modifikasi hingga berubah penyebutannya menjadi Cheongsam.

Budaya barat yang menginvasi daratan Tiongkok pun turut mempengaruhi evolusi pakaian tradisional tersebut. Bentuknya menjadi fleksibel meski tidak meninggalkan elegansinya dari bahan yang digunakan serta jahitan benang sutra yang menjadi ciri khasnya. Cheongsam kini menjadi pakaian pas badan yang memberi pilihan : dengan atau tanpa lengan, panjang di atas lutut atau menutupi seluruh kaki. Berkat perubahan tersebut, kini Cheongsam menjadi pakaian tradisional yang nyaman dikenakan dalam berbagai acara, baik semi formal maupun formal sebagaimana yang dibuat oleh butik online berikut dengan Shan Red.